
TL;DR
Food loss adalah penurunan jumlah atau kualitas pangan yang terjadi di sepanjang rantai pasok, dari tahap produksi hingga distribusi, sebelum sampai ke konsumen. Ini berbeda dari food waste yang terjadi di tingkat konsumen. Secara global, sekitar sepertiga dari semua pangan yang diproduksi hilang atau terbuang setiap tahunnya.
Setiap hari, jutaan ton pangan yang sudah diproduksi dengan kerja keras petani dan sumber daya alam yang tidak sedikit tidak pernah sampai ke meja makan. Bukan karena tidak ada yang membutuhkan, tapi karena hilang di tengah jalan. Inilah yang disebut food loss, sebuah masalah sistemik dalam rantai pasok pangan global yang berdampak langsung pada ketahanan pangan, ekonomi petani, dan kondisi lingkungan hidup.
Food Loss Adalah: Definisi yang Tepat
Food loss adalah pengurangan massa atau kualitas pangan yang terjadi sepanjang rantai pasok pasokan pangan, khususnya pada tahap produksi, pascapanen, pengolahan, dan distribusi. Istilah ini mengacu pada kehilangan pangan yang terjadi sebelum pangan tersebut mencapai tahap konsumen akhir.
Definisi ini ditetapkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sebagai bagian dari upaya global untuk mengukur dan mengurangi kehilangan pangan di seluruh dunia. FAO menetapkan bahwa sekitar sepertiga dari seluruh pangan yang diproduksi untuk konsumsi manusia secara global, sekitar 1,3 miliar ton per tahun, hilang atau terbuang.
Kata kuncinya adalah “di sepanjang rantai pasok sebelum konsumen”. Ketika seorang petani memanen singkong tetapi separuhnya rusak sebelum sempat dijual, itulah food loss. Ketika truk pengiriman sayuran mengalami kerusakan mesin di tengah jalan dan isinya membusuk, itu juga food loss. Pangan yang sudah ada tapi tidak bisa dimanfaatkan karena sistem yang tidak berjalan dengan baik.
Perbedaan Food Loss dan Food Waste
Dua istilah ini sering digunakan bergantian tapi sebenarnya merujuk pada dua hal yang berbeda dalam konteks waktu dan pihak yang terlibat.
Food loss terjadi di sisi produksi, pengolahan, dan distribusi, biasanya di luar kendali konsumen. Penyebabnya mencakup kerusakan mesin, kurangnya infrastruktur penyimpanan dingin, standar penampilan pasar yang ketat, dan masalah transportasi.
Food waste (pemborosan pangan) terjadi di tingkat pengecer dan konsumen. Ini adalah pangan yang secara kualitas masih layak konsumsi tapi sengaja dibuang atau tidak digunakan, misalnya makanan sisa yang tidak dimakan, produk kedaluwarsa yang tidak sempat dikonsumsi di rumah, atau makanan yang dibuang karena tampilannya kurang menarik.
Perbedaan ini penting karena solusinya berbeda. Mengatasi food loss membutuhkan investasi infrastruktur, perubahan kebijakan rantai pasok, dan pelatihan petani. Mengatasi food waste lebih banyak berkaitan dengan edukasi konsumen dan kebijakan di tingkat ritel. Pembedaan konseptual ini diformalisasi dalam Target 12.3 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, yang menetapkan target global pengurangan separuh food waste dan penurunan food loss pada 2030.
Baca juga: Neraca Keuangan: Komponen, Bentuk, dan Cara Membuatnya
Penyebab Utama Food Loss di Sepanjang Rantai Pasok
Food loss terjadi di berbagai titik dalam rantai pasok pangan, dan penyebabnya berbeda-beda di setiap tahap.
Pada Tahap Produksi dan Panen
Panen yang terlambat karena cuaca buruk atau kekurangan tenaga kerja bisa menyebabkan sebagian hasil panen membusuk di ladang. Teknik panen yang kurang tepat juga menyebabkan kerusakan fisik pada produk, yang mempercepat pembusukan. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, ini adalah penyumbang terbesar food loss di sektor pertanian.
Pada Tahap Penyimpanan Pascapanen
Fasilitas penyimpanan yang tidak memadai, terutama ketiadaan rantai dingin (cold chain) untuk produk segar seperti sayuran, buah, daging, dan ikan, adalah penyebab besar food loss di negara-negara tropis. Tanpa suhu yang terkontrol, pangan mudah rusak jauh sebelum sampai ke pasar.
Pada Tahap Pengolahan dan Distribusi
Proses pengolahan yang tidak efisien, kerusakan mesin, dan pengemasan yang tidak memadai bisa menyebabkan produk rusak sebelum sampai ke konsumen. Jaringan distribusi yang panjang dan kondisi jalan yang buruk juga memperbesar risiko kerusakan selama pengiriman.
Dampak Food Loss terhadap Ekonomi dan Lingkungan
Dampak food loss bukan hanya soal makanan yang tidak sampai ke meja makan. Ada konsekuensi ekonomi dan lingkungan yang jauh lebih luas.
Secara ekonomi, food loss merugikan petani secara langsung karena hasil panen yang hilang berarti pendapatan yang tidak didapat. Di tingkat nasional, ini berarti hilangnya nilai ekonomi besar dari sektor pertanian. Kementerian Pertanian RI mencatat bahwa kerugian akibat food loss dan food waste di Indonesia bisa mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahunnya, jumlah yang cukup untuk memberi makan jutaan orang yang masih mengalami kerawanan pangan.
Dari sisi lingkungan, pangan yang hilang atau terbuang tetap meninggalkan jejak karbon dari sumber daya yang sudah digunakan untuk memproduksinya: air, pupuk, bahan bakar mesin pertanian, dan lahan. Ketika pangan membusuk di tempat pembuangan akhir, ia menghasilkan gas metana yang merupakan gas rumah kaca lebih kuat dari karbon dioksida.
Upaya Mengurangi Food Loss di Indonesia
Indonesia sudah mulai mengambil langkah konkret untuk mengurangi food loss. Pembangunan cold storage di sentra produksi pertanian, pelatihan teknik pascapanen bagi petani, dan pengembangan infrastruktur jalan di daerah pertanian terpencil adalah beberapa intervensi yang sedang berjalan.
Di tingkat kebijakan, pemerintah mendorong kemitraan antara petani dan industri pengolahan pangan untuk menyerap hasil panen berlebih yang berpotensi menjadi food loss. Program ini memberi petani kepastian pasar dan memastikan pangan sampai ke industri pengolahan sebelum sempat rusak.
Baca juga: SIPAFI Sragen: Cara Daftar, Login, dan Urus KTAN Online
Teknologi juga memainkan peran yang semakin besar. Aplikasi yang menghubungkan petani langsung dengan pembeli, sistem prediksi panen berbasis data, dan pengemasan cerdas yang memperpanjang umur simpan produk segar semuanya berkontribusi pada pengurangan food loss di titik-titik kritis rantai pasok pangan.
Food loss adalah cermin dari inefisiensi sistemik dalam cara kita memproduksi dan mendistribusikan pangan. Memahami apa itu food loss, membedakannya dari food waste, dan mengenali penyebabnya adalah langkah pertama untuk terlibat dalam solusi, baik sebagai konsumen yang lebih bijak, petani yang lebih terampil, maupun pengambil kebijakan yang lebih tepat sasaran.
